Dibekuk di Sleman, IA, Terduga Teroris Dikenal Pendiam dan Tertutup

0 157

Indonesianmonitor.com – Isa Abdulaah Azzam (IA), salah satu pegawai di sebuah konter Kebab Turki diduga kuat terlibat dalam kasus terorisme.

Densus 88 menciduknya saat sedang makan siang di sebuah warung yang berada di Dusun Krapyak Sidoarum, Godean, Sleman, Selasa (11/12) siang lalu.

Dari keterangan yang dihimpun Indonesian Monitor, Isa Abdullah Azzam berasal dari Indramayu. Dia tinggal bersama pekerja lainnya di sebuah kontrakan yang berada di RT 06, RW 18, Dusun Krapyak, Sidoarum, Godean, Sleman, DIY.

Kepala Depo Outlet Kebab wilayah Yogya-Solo, Muhammad Gilang Syarifudin (25) menjelaskan, IA merupakan anak buahnya yang mulai bekerja pada tanggal 5 September lalu. Dia berasal dari Indramayu dan bekerja di DIY karena alasan ingin dekat dengan keluarganya yang berada di kawasan Condongcatur, Sleman.

“Saya kurang paham latar belakangnya. Namun, dia merupakan salah satu kompetitor kebab dulunya dan ke Yogya karena ingin dekat dengan keluarganya,” katanya.

Gilang melanjutkan, selama bekerja kurang lebih tiga bulan, tidak ada hal aneh dari peringai terduga teroris tersebut. Menurutnya, IA merupakan sosok pendiam yang memang tertutup dalam urusan pribadinya.

Akan tetapi, jika teman-teman mengajaknya untuk sekadar bermain Play Station (PS) dan juga memancing, terduga teroris tetap mengiyakannya. Termasuk, dalam segi penampilan pun tidak ada hal yang mencolok dari pemuda berusia sekitar 18 tahun ini.

“Orangnya masih muda, penampilan tidak mencolok dan mengikuti style, seperti pakai jeans dan bukan gamis atau celana cingkrang,” katanya.

Dia juga mengatakan, dalam kesehariannya meski sebagai pribadi yang tertutup, terduga juga diketahui tidak mengikuti kegiatan keagamaan.

“Kalau libur ya tidur, tidak ikut jamaah-jamaah seperti itu,” ujar Gilang.

Dia menambahkan, terduga sebenarnya hendak resign dari outlet Kebab Turki ini. Namun, pihaknya sempat menahannya karena hendak diperbantukan untuk membantu promo kebab tersebut.

Dia pun mengaku cukup kaget karena adanya penangkapan oleh Densus 88 ini pada Selasa (11/12/2018) sekitar pukul 14.00 WIB. Pada saat penangkapan tersebut, dia sedang berkeliling di outlet yang berada di Kaliurang.

“Sementara, ada beberapa karyawan yang sedang tidur dan dia (terduga) sedang makan di warung,” paparnya.

Gilang tidak mengetahui apa saja yang digeledah dan dibawa oleh Densus 88. Hanya, pasca penangkapan dirinya dan empat pekerja lainnya diperiksa di Mapolda DIY. Pemeriksaan hingga pukul 19.30 WIB ini untuk meminta keterangan terkait diri terduga, perkembangan kepribadian dan lainnya.

“Sekarang sudah normal kami jualan lagi keliling lagi,” ulasnya.

Ketua RT 06, RW 18 Dusun Krapyak, Petrus Suherman mengungkapkan saat terjadinya penangkapan, dirinya diminta petugas untuk menjadi saksi. Dia mengaku dihampiri oleh sejumlah petugas yang belakangan diketahuinya sebagai Densus 88 berpakaian preman.

“Saya diminta oleh petugas itu untuk menjadi saksi. Penglihatan saya mereka melakukan penggeledahan dan membawa barang-barang berupa tas ransel dan beberapa surat seperti kopian ijazah, blangko terlampir dan satu kotak tinta hitam saya kurang tahu apa,” urainya.

Dia mengatakan, ada empat karyawan yang dibawa oleh petugas. Dua orang masuk mobil dan dua orang naik motor. Saat itu juga tidak ada perlawanan. “Saya tidak hafal siapa saja mereka dan darimana mereka berasal,” ulasnya.

Menurutnya, para pekerja itu adalah anak muda yang memang jarang mengikuti kegiatan kampung. Kecuali, mereka membersihkan jalan di sekitar rumah yang mereka tinggali. Selama ini pula dia juga tidak mengetahui secara pasti barang dagangan milik para pekerja itu.

Dia mengatakan, memang sejauh ini belum ada penyerahan dokumen surat dari tempat tinggal empat orang yang melapor ke dirinya. Dalam aturannya, seharusnya memang ada laporan dari tempat tinggal sekitarnya.

“Namun, ini manusiawi saja seharusnya sudah diusir namun tidak kami lakukan,” jelasnya.

Reporter: Ageng Suryo

Editor: Noor Ahmad

- Advertisement -

Leave A Reply

Your email address will not be published.